
Pak Fasli Yang saya kagumi
MEREKONSTRUKSI PARADIGMA KECERDASAN
Pak! saya pernah membaca-baca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang kolomnis yang bertemakan soal kecerdasan, dalam artikel tersebut ia mengulas isi buku seorang ahli yang bernama Daniel Goleman. Menurut Goleman kecerdasan Intelegensi tidak terlalu menentukan pada diri seorang siswa, akan tetapi emosilah (EQ) yang banyak menggerakkan siswa untuk sukses. Sedangkan ahli yang lain seperti Marshall dan Danah Zohar dalam bukunya Spritual Quotient yakni dosen Oxford dan Harvard University mengkritik kecerdasan EQ. Menurut keduanya berdasarkan analisisnya selama bertahun-tahun mereka menemukan kecerdasan baru yang namanya Spritual (SQ). Pendapat para ahli diatas diperkuat oleh kajian Michael Persinger serta temuan dari Prof.V.S.Ramachandran yang menunjukkan dalam diri manusia ada alat yang bisa merasakan nuansa mistik, alat itu dinamakan God Spot. Oleh Marshal dan Zohar, alat tersebut lebih dimaknai secara materil. Dan keduanya menolak kecerdasabn spritual dikaitkan dengan agama tertentu.
Pak! setelah saya coba-coba dengan ilmu saya yang amat tidak memadai untuk menganalisa kajian yang dilakukan oleh para ahli tersebut dengan realitas keseharian kita masyarakat Indonesia, kelihatan"nyambung" antara kajian yang dilakukannya dengan kenyataan yang ada di sebahagian masyarakat kita, kalaupun kita agak berat juga untuk menyebutkan pada keseluruhan masyarakat kita. Dalam keseharian kita, orang yang kita anggap punya kecerdasan lebih (IQ) yang kita kira mampu menuntun, membimbing masyarakat malahan ternyata banyak mendatangkan masalah pada masyarakatnya, meresahkan dan menghantui masyarakatnya. Kita tidak bermaksud mengeneralisir, tapi ini hanya sekedar mengambil contoh, bahwa masih segar dalam ingatan kita akan kasus seorang Dr. Azhari yang berpendidikan Eropah yg kualitas keilmuannya cukup baik tapi "miskin" ESQ benar-benar telah menjadi teror dan menimbulkan ketakutan dimana-mana. Sebaliknya pula orang yang IQ nya biasa-biasa saja menurut pandangan umum, tapi memiliki ESQ yang stabil, justru orang inilah yang lebih berhasil beradaptasi bahkan memimpin masyarakatnya, dan barangkali orang inilah yang lebih berhak menjadi khalifah di bumi Allah ini.
Mencermati fenomena selama ini, ukuran kecerdasan seseorang memang ada kecendrungan selalu dilihat dari paradigma Itelegensi (IQ. Angka-angka cukup memainkan peranan penting dalam penilaian siswa. Pendidikan keilmuan jauh lebih mendapat tempat, kajian yang dilakukan dibangku sekolah/kuliah lebih banyak mengasah otak ketimbang pendidikan akhlak. Sehingga tidak heran situasi yang tidak kondusif hari ini, seperti maraknya berbagai kasus, korupsi, perkelahian antar sesama dan lain sebagainya kalau tidak akan dikatakan buah ya! mungkin merupakan efek samping dari kerja keras kita di masa lalu. Kita tidak akan mengutuk masa lalu kita yang buruk, sebab masih banyak yang positif yang telah kita raih. Kita tak akan pesimis, berputus asa dan sejenis oleh karna kita pernah berbuat tidak maksimal dalam hidup kita. Masa lalu ya masa lalu, biarlah ia jadi bagian dari hidup bangsa kita, biarlah ia jadi sejarah saja,titik.
Pak Fasli yang saya idolakan! Saya tak tahu, betul-betul tidak tahu, apakah mungkin karena menyadari kita pernah tidak secara seimbang mempraktekkan/memperlakukan antara IQ dengan ESQ terhadab bangsa ini mada masa lalu? sehingga hari ini elemen yang ada dimasyarakat mulai peduli dengan apa yang kita sebut dengan ESQ tersebut. Ataukah ini merupakan sebuah Evolusi dari usaha besar kita dalam membangun, memperbaiki citra dan "mambangkik batang tarandam" masyarakat Kita? sehingga hari ini menurut anlisa saya yang dangkal kita mulai bangkit untuk berbuat dan bekerja. Pak! seperti kita tahu, saat ini sedang giat-giatnya dilakukan apa yang disebut dengan pelatihan ESQ, menurut yang saya dengar, pelatihan ini berbeda hasilnya dengan pelatihan / penataran yang pernah ada di masa lalu. Kabarnya pelatihan ini membawa dampak positif yang sangat signifikan bagi individu yang bersangkutan, termasuk juga terhadap yang diluar individu tersebut. Saat pelatihan dan kabarnya juga setelah pelatihan selesai, banynk diantara peserta yang menangis "tersedu-sedu" karena mereka menurut sumber yang saya percaya banyak yang sadar dan menyadari bahwa memang ada kehidupan yang lain yang menunggu setelah kehidupan di dunia ini. Indikatornya? kabarnya ada diantara peserta yang bersedia dengan tanpa paksa rela untuk tobat dan mengembalikan apa yang tidak menjadi haknya kepada orang lain atau kepada negara. alhamdulillah suatu langkah dan perbuatan positif.
Pak! Menurut yang saya baca lagi di media masa, saat ini di Sumatera Barat saja alumni peserta ESQ lk sudah 356.551 orang, beliau membentuk kepengurusan alumni ESQ. Pak! saya mengusulkan pada Bapak atau melalui Bapak bagaimana kalau Departemen kita, DIKNAS atau PMPTK membuat sebuah program kerja untuk melatih para pendidik dan kalau memungkinkan termasuk siswa-siswa untuk dilatih pula ESQ ini. Soal biayanya? ya!kalau tidak akan sebahagian besar bapak bantu paling tidak seluruhnya Bapak yang mensubsidi / menganggarkan. Sebab terus terang saja Pak! sebetulnya yang kami punyai selaku Guru hari ini, disamping hanya modal dengkul, kami hanya punya modal semangat untuk belajar, yang lainya tidak ada.
pak!ini rahasia pribadi saya pak! pernah terlintas dipikiran saya (atau saya bermimpi kali pak?) Jika saya lulus ikut sertifikasi tahun ini, lalu diberi hak dan wewenang untuk meneruskan mengajar anak-anak di sekolah, serta memang diberi tunjangan mengajar, suatu hari nati Insya Allah saya akan gunakan sebahagian uang itu untuk belajar dan belajar lagi, semoga! tolong doakan kami semua guru ini ya Pak! menjadi guru yang profesional dan dapat dibanggakan bagi pembangunan bangsa ini kedepan.terimakasih.
Pak Alfahri yth,
Saya senang sekali membaca ulasannya yg menunjukkan bahwa Pak Alfahri selalu belajar. Esensi dari guru yg profesional adalah bahwa guru selalu belajar sepanjang hayat karena menjadi bagian dari learning communities (masyarakat pembelajar) yg bertugas di learning institution. Karena itu teruslah belajar dan mengembangkan ilmu utk dibagi dan ditularkan pada sesama teman guru, murid dan masyarakat luas. Kita di Depdiknas juga menyadari peran penting dari Spiritual Quotient, karena itu kita bekerja sama dg ESQ yg telah melatih puluhan ribu guru secara gratis didukung oleh Ikatan Alumni ESQ yg tersebar diseluruh pojok nusantara. Saya dan Pak Ary Ginanjar sudah menanda tangani MOU utk melatih ratusan ribu guru lagi yg dibiayai bersama. Bahkan ESQ dan Diknas akan memperingati Hari Guru 2007 dg acara khusus utk mengingatkan guru betapa pentingnya pendekatan spiritual utk keutuhan kehidupan kita terutama dlm menjalankan tugas profesional kita. Apalagi bagi guru yg bertugas utk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta membangun akhlak mulia disamping membentuk watak sbg anak bangsa. Karena itu mari kita sebarkan semangat ini dan kita dukung program utk melatih guru dan murid dlm ESQ. Semoga Allah SWT memberikan Ridho, Taufik, Hidayah, dan InayahNYA pada usaha kita ini Amin.
Fasli Jalal
DRS. ALFAHRI, M.Pd
GURU SMA 1 LINTAU TANAH DATAR
fahrii123@yahoo.com
(18/10/2007 | 14:49 WIB) Drs.ALFAHRI, M.Pd GURU SM 1 LINTAU BATUSANGKAR
|